Tafsir Kekalahan Kyai Sa'id Aqil Siradj
Ketika seseorang sufi telah mencapai "Maqam Kewalian", maqam dimana seorang benar benar mencintai dan dicintai Allah, maka umumnya ia berusaha menyembunyikannya dari pengetahuan manusia, bahkan kadang ia melakukan hal hal yang secara tafsir agama dilarang hanya untuk menutupi Maqam Kewaliannya itu.
Salah satu syarat paling penting mencapai Maqam itu adalah tidak ada rasa sombong sedikit dan sekecil apa pun dalam hatinya, tidak merasa sedikit pun paling baik dari makhluk Allah yang lain bahkan dari tumbuhan sekalipun dan tidak memiliki bisikan hati sekecil apa pun untuk menyakiti dan merendahkan makhluk Allah.
Sebagai seorang yang memiliki kedalaman ilmu-ilmu agama, khususnya dalam bidang Tasawuf saya meyakini bahwa Kyai Sa'id Aqil Siradj, telah mendekati atau bahkan telah sampai ke Maqam itu. Saya menduga, karenanya beliau ingin menutupi maqamnya itu dari khalayak, dan menjaganya dengan cara menghilangkan penyakit hati yang paling membahayakan, yaitu kesombongan, merasa paling benar, dan kehendak menyakiti dan merendahkan siapa pun.
Saya menduga, Kyai Sa'id Aqil Siradj telah mengetahui bahwa beliau akan kalah dalam pemilihan ketua tanfidhiyah PBNU, namun beliau tetap maju. Mengapa ? Alasan paling utama adalah untuk menghilangkan penyakit hati itu. Sehingga Maqam Kewalian tetap bisa dijaga. Sebab menurut cerita "orang orang wali", Allah akan mencabut kewalian bagi wali siapa pun yang ada setitik tinta kesombongan dan merasa paling baik dalam hatinya. Alasan kedua, tapi bagi saya tidak penting, adalah untuk memberikan pembelajaran pada warga NU bahwa untuk "berjuang" itu harus "berjuang" dan bahwa perjuangan itu selalu harus dijalankan dengan hati yang bersih dan tulus.
Terima kasih Kyai Sa'id Aqil Siradj, saya mencintai panjenengan. Saya juga bangga menyaksikan kebesaran dan kedewasaan NU melalui panjenengan dan kyai-kyai lainnya.

Komentar
Posting Komentar